Beban Berat di Pundak Markonah



Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah gambaran beban hidup Markonah. “Di hari itu saya tersadar, sembuh dari gila, hamil, dan sudah menjadi isteri dari laki-laki yang tidak pernah tahu kapan menikahi saya”.




Kalimat itu keluar dari mulut perempuan berkerudung sambil menggendong anaknya yang berusia satu tahun. Ia tidak sedikit menuturkan kisah perjalanan hidupnya pada pertengahan April 2012, namun kalimat itulah yang membekas dalam ingatan saya.

Perempuan yang sudah memiliki empat orang anak itu memulai cerita. Setelah lulus dari SMA, sebagai anak orang terpandang yang mencalonkan diri untuk menjadi lurah, ia memiliki impian besar untuk bisa kuliah. Namun kemudian ayahnya dipenjara karena suatu tindak pidana. Impian besarnya gagal tercapai dan kemudian dijodohkan dengan laki-laki yang tidak ia cintai karena kesulitan ekonomi. “Saya stress dan kemudian berubah menjadi gila entah sejak kapan”, ujar Markonah memulai cerita. Sebagai perempuan, Markonah sadar bahwa pendidikan penting baginya. Budaya patriarki yang masih mengakar di Indonesia seperti tidak berlaku bagi keluarga Markonah. Meski perempuan, Ayahnya mendukung agar ia bisa mengenyam pendidikan hingga perguran tinggi. Markonah juga melakukan perlawanan ketika dijodohkan oleh ibunya. 

Entah dapat iformasi dari mana, menurutnya saat gila ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa Bogor. Namun ketiadaan biaya, kemudian orang tuanya memilih jalan lain, pengobatan alternatif. Bapaknya yang kemudian keluar dari penjara mengizinkan Somad, laki-laki tetangga rumahnya itu untuk mengantar Markonah berobat alternatif berdua. 

Di suatu hari, keluarga mengetahui kalau Markonah hamil. Menikahkan dengan Somad sebagai orang yang mengamilinya dipilih keluarga untuk menutupi rasa malu dari masyarakat. Tentu Markonah sama sekali tidak tahu perihal pernikahannya itu.
Markonah tersadar dan sembuh dari gila. Ia sudah hamil besar dan sudah menjadi isteri Somad. Meski tidak bisa menerima kondisi tersebut, namun tidak ada pilihan lain kecuali pasrah. Markonah berniat cerai setelah anak yang dikandungnya lahir yang kemudian diketahui mengalami "keterbelakangan kemampuan". Namun ia batal bercerai karena kemudian mengandung anak kedua. “Mau cerai, karena ditunda-tunda tiba-tiba saya hamil anak kedua pak”, ujarnya. Niat ingin bercerai dengan Somad kembali gagal setelah ia kembali hamil anak ketiga.

Perempuan asli betawi itu, bukan tanpa alasan menunda-nunda untuk bercerai. Sebagai orang yang tidak mengerti hukum. Ada rasa takut untuk mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan.

Markonah memilih aktif di lingkungan untuk mengurangi beban pikirannya. Ia membuka Taman Bacaan Masyarakat hingga pernah diminta menjadi Tim Sukses Lapangan oleh calon walikota. Ia juga menyibukan diri dengan kuliah atas biaya calon walikota yang didukungnya itu, meski akhirnya tidak selesai. Somad sang suami mencurigai Markonah selingkuh dengan laki-laki lain karena sering pulang malam saat menjadi tim sukses calon walikota itu. “capek-capek pulang kerja, seenaknya menuduh selingkuh”, ujarnya Markonah dengan kesal. 

Di tengah kesibukannya menjadi tim sukses calon walikota, tugas kuliah sering kali terbengkalai. Wanto menawarkan untuk membantu mengerjakan tugas kuliahnya. Markonah kemudian “merasa nyaman” dengan laki-laki yang sudah beristeri dan mempunyai dua anak itu. Markonah mulai terpaksa “membuka pintu” untuk laki-laki itu. Somad juga selingkuh dan sudah tinggal bersama dengan perempuan lain di rumah yang dulu Markonah dan Somad tempati.

Markonah saat ini telah tinggal satu rumah dengan Wanto dan mempunyai anak usia satu tahun dari pernikahan sirinya itu. Sebagai sesama perempuan, Markonah tentu punya “hati”, meski Wanto tidak suka, ia kerap meminta Wanto untuk kembali ke isteri sahnya dan bertanggungjawab memberikan nafkah bagi isteri dan anak-anaknya.

Menurut orang tua, Wanto menikahi Markonah hanya mengharapkan harta warisan yang akan dibagikan oleh orang tua Markonah kepada anak-anaknya. Wanto juga lebih sering tidak memberikan nafkah bagi Markonah dan anaknya. “Jadi hanya memanfaatkan anak saya saja. Saya sudah berkali-kali minta menceraikan Wanto” ujar Ibunya Markonah pada waktu yang berbeda. Hal ini juga dibenarkan oleh Markonah.

Tidak hanya itu, Wanto kerap memukul Markonah jika pergi tidak izin atau jika bertemuan dengan teman terlalu lama meski sebelumnya sudah dizinkan.
Markonah sudah menikah, Somad-pun demikian. Somad kemudian mengajukan gugatan perceraian dan tentu Markonah senang dengan hal itu, hingga ia membantu mengurus surat izin cerai dari atasan Somad sebagai PNS di sebuah Rumah Sakit di Jakarta.

Dengan membayar uang muka 2 juta, Markonah memiliki kuasa hukum yang akan mewakilinya di persidangan. Namun ternyata orang yang mengaku pengacara tersebut tidak pernah datang ke persidangan. Markonah kalah, tuntutan nafkah pasca perceraian dan harta bersamanya tidak dikabulkan oleh hakim.

“Apa tidak sebaiknya bercerai saja dengan Wanto bu?”, tanya saya mengakhiri pertemuan. “Saya tidak mau bercerai, takut anak saya diambil dan tidak ingin anak saya kembali menjadi korban percerian” jawabnya tegas. 

***
 
Catatan: Tulisan ini merupakan pengalaman pendampingan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan LBH Keadilan. Kasus percerainnya hingga kini (29/12/2014) masih dalam proses kasasi di Mahkamah Agung. Semua nama dalam tulisan ini, bukan nama sebenarnya. 

0 Response to "Beban Berat di Pundak Markonah"